“Ini Abang kan?”

Waktu itu, akhir Januari 2016. Kembali aku menginjakkan kaki di tanah Eropa untuk kedua kalinya dengan visa yang masih sama; Schengen. Harapan ke Eropa dengan visa family reunion pupus sudah karena persyaratan dokumen yang memang tidak bisa diusahakan.

Maskapai Air France membawaku terbang menembus cakrawala dengan lama perjalanan sekitar 13 jam menuju Paris. Bandara Charles de Gaulle terasa sangat padat dan sesak ditambah para tentara yang berjaga di setiap sisinya, memasang mata curiga pada siapa saja.

Sendiri. Terasa asing sekali dengan memakai jilbab. Benar-benar tampak berbeda. Merasakan bahwa hampir semua mata mengarah padaku. Aku takut -entahlah, takut saja- dengan mata yang sedang mencari-cari tempat duduk yang kosong, tapi ruang tunggu waktu itu sangat ramai. Aku berdiri sambil tertunduk dan mengabari suami bahwa aku sudah di ruang tunggu. Ternyata whatsapp-nya tidak aktif, dan kupikir suami sudah terbang dengan pesawat dari Brussels menuju bandara Tegel, Berlin. Handphone terus saja kumainkan, meski sebenarnya aku hanya membuka-menutup aplikasi yang ada di layarnya, cukuplah melumpuhkan rasa tegang. Dan saat itu juga, seorang pria berwajah Timur Tengah mempersilahkanku duduk di bangkunya. Dengan kemampuan nihil berbahasa Prancis, akhirnya kukatakan juga “Merci“.

Syukurlah, waktu itu hanya transit sekitar 2 jam. 1,5 jam sudah dihabiskan untuk melewati imigrasi yang tak kalah menegangkan. Security check berwajah India berbicara dengan keras, membuat siapa saja termasuk aku si tipikal melankolis bisa saja menangis. Iya. Saat itu hampir saja airmata keluar.

Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang. Panggilan untuk seluruh penumpang maskapai Air France tujuan Tegel, Berlin dipersilakan memasuki pesawat. Pesawat terbang rendah. Menabrak awan beriringan. Langit tampak berwarna putih dari jendela pesawat. Terdengar awak pesawat memberikan pengumuman bahwa pesawat akan mendarat di bandara Tegel sekitar 30 menit lagi. Dadaku semakin terasa sesak. Rindu yang kupendam lebih dari lima bulan lamanya, sebentar lagi akan tumpah ruah bersama kekasih halal. Tak bisa kubayangkan bagaimana romantisnya pertemuan nanti, ah mungkin akan seperti adegan FTV Indonesia. Tiba-tiba saja mataku basah. Maka kubiarkan saja ia menetes di pipi, beruntung di samping tak ada orang. Karena sengaja aku meminta kepada petugas check-in untuk dipilihkan bangku yang sendiri untuk menghindari jika seandainya teman dudukku adalah pria.

Dalam waktu 30 menit ini, pesawat semakin terbang rendah. Rendah sekali sehingga aku bisa melihat pemandangan kota dibalik jendela pesawat. Putih. Atap-atap rumah, taman-taman, lapangan kosong tampak putih. Maka bisa kupastikan ini adalah salju. Iya, salju pertamaku.

Pesawat mendarat dengan sempurna. Sebelum keluar, para penumpang sudah memasang atribut lengkap musim dingin. Jaket yang tebal, syal, sepatu tahan angin dan lain sebagainya. Aku? Hanya sweater yang kubawa dari Indonesia. Dan sepatu? Hanya sepatu flat.

Bus pun sudah menanti untuk membawa penumpang menuju pintu bandara. Aku menggigil. Udara musim dingin terasa begitu menusuk hingga tembus ke seluruh badan, mungkin juga menembus tulangku. Melihat buliran-buliran putih yang masih jatuh ke tanah, membuat suasana begitu dramatis. Kudekap tubuhku dengan tangan, agar sedikit membuat hangat.

Penumpang masuk bandara. Kupikir, sebentar lagi akan melewati imigrasi kembali, ternyata tidak. Aku celingak celinguk mencari dimana tempat pengambilan bagasi. Dan saat itulah, mataku melihat sosok seseorang yang hanya berjarak lima meter dariku dan sedang tersenyum sumringah. Ia segera menghampiriku, memelukku. Pelukan yang begitu erat. Hangat. Menghangatkan aku yang kedinginan. Aku kaget, benar-benar tak sadar selama lima detik. Otakku terus mencerna siapa lelaki ini dan apa yang ia lakukan padaku. Aku tak membalas pelukannya. Hanya diam mematung. Aku bingung, atau mungkin lebih tepatnya syok dan ingin bertanya, “Kamu siapa?”. Sebelum pertanyaan bodoh itu kutanyakan, ia mencium keningku dan bertanya, “Ade sehat? Ade dingin?”dengan sorotan mata yang tak pernah bisa kulupakan sepanjang hidupku. Sorotan lega, bahagia dan terharu. Lalu ia pun memasangkan jaket tebal ke tubuhku. Aku menangis, ternyata benar, ia adalah suamiku. Aku terus saja menangis. Aku balas pelukannya sambil bertanya, “Ini Abang kan?”

#ceritakuberasaFTV #alay

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s