QS 2:4

🐱 “Dan orang-orang yang beriman terhadap apa-apa yang diturunkan kepada mereka, dan apa-apa yang diturunkan kepada sebelum mereka, dan kepada hari akhirat mereka yakin”.

🐱 secara kronologis, biasanya Allah menceritakan 3 hal ini secara berurutan: petunjuk masa lampau (zabur, taurat, injil), petunjuk masa kini (qur’an), dan kejadian di masa depan (akhirat).

🐱 namun khusus dalam ayat ini Allah sengaja ‘merusak’ kronologis itu dan menyebutkan qur’an sebagai yang pertama, dilanjut zabur-taurat-injil, dan diakhiri dengan akhirat.

🐱 ini menunjukkan apa yang seharusnya kita percayai terlebih dahulu di masa kini, karena qur’an sudah diturunkan maka seharusnya kita berusaha mempercayai qur’an dulu.

🐱 pada zaman dulu, waktu qur’an belum turun, orang-orang mengenal dan menaati Allah via taurat dan injil, dan itu normal.

🐱 namun setelah qur’an turun, maka gunakan qur’an sebagai pelindung/penjaga untuk kitab-kitab sebelumnya, sebagai referensi nilai-nilai apa saja yang masih relevan untuk diterapkan dari taurat dan injil dan mana yang sudah tergantikan.

🐱 contohnya, kaum yahudi saat ini yang berdasarkan pada taurat, mereka menyatakan bahwa menurut kitab mereka tidak ada hari akhirat disebutkan, sehingga mereka hanya fokus terhadap dunia saat ini (membangun dunia yang lebih baik) tanpa mempersiapkan hari akhirat.

🐱 pada masa Rasulullah dulu, Allah ‘berhadapan’ dengan para ahli-ahli agama yang sudah berpegang erat terhadap kitab-kitab yang Dia turunkan sebelumnya, taurat dan injil, sehingga Allah menurunkan qur’an sebagai komparasi bagi mereka-mereka dan memperbaiki kitab-kitab yang terdahulu, membuktikan bahwa sebagian isi taurat dan injil adalah benar, dan sebagian yang lain perlu diperbaiki sesuai dengan keadaan ummat.

🐱 contoh ‘kekurangan’ injil: mereka (penganut agama kristen) mempercayai bahwa para penganut agama kristen setelah jesus wafat semua akan masuk surga, lantas kemudian muncul pertanyaan “bagaimana dengan orang-orang sebelum jesus lahir? Padahal disebutkan juga bahwa mereka orang-orang yang baik, seperti abraham dan moses”, sehingga kemudian muncul teori-teori liar dari penganutnya karena hal ini tidak dijelaskan sebelumnya dalam kitab mereka.

🐱 atau ‘kekurangan’ taurat: tidak pernah dibahas kehidupan setelah kematian (akhirat).

🐱 ummat islam seringkali berdebat berapa jumlah rakaat tarawih yang benar, bagaimana menentukan hilal, dsb, namun satu (contoh) hal yang ummat islam tidak pernah dan tidak akan pernah berdebat adalah adanya hari akhir, tidak pernah ada debat bagaimana penampakan surga dan neraka, karena semua sudah dijelaskan dalam qur’an dan oleh Rasulullah, dan hal ini yang tidak pernah dijelaskan dalam taurat dan memberikan kebingungan bagi ummat yahudi.

🐱 qur’an, sejak hari pertama diturunkan sampai hari manusia terakhir meninggal, diberikan cara tersendiri oleh Allah untuk melindungi originalitasnya.

🐱 sebagai disebutkan dalam kronologis pada QS 2:4, qur’an-taurat zabur injil-akhirat, orang-orang yang bertaqwa mempercayai bahwa setelah qur’an diturunkan maka tidak akan pernah ada lagi kitab yang Allah turunkan kepada ummat manusia, karena kejadian besar berikutnya setelah qur’an adalah akhirat, dan selesai, tidak akan pernah ada lagi rasul yang diturunkan setelah Rasulullah, tidak akan pernah ada lagi kitab diturunkan.

QS 2:5

🐼 “mereka itulah orang-orang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (sangat sukses).”

🐼 perhatikan bahwa Allah menggunakan kata “hudan” untuk menunjukkan ‘orang-orang yang mendapat petunjuk’, yang dalan grammar arabic berupa naqirah, menunjukkan bahwa petunjuk (qur’an) yang digunakan orang-orang tersebut benar-benar petunjuk besar dan terbesar yang Allah turunkan.

🐼 di sini Allah menegaskan bahwa orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini adalah orang-orang yang benar-benar berkomitmen terhadap petunjuk yang besar itu.

🐼 Allah juga menggunakan kata “muflihuun” dibandingkan kata “faa’izuun” kendati secara translasi keduanya berarti sama (orang-orang yang sukses), hal ini menunjukkan bahwa Allah menghendaki orang-orang tersebut tidak hanya sekedar sukses atau beruntung, melainkan bekerja keras untuk kemudian memanen kesuksesannya dari hasil kerja kerasnya itu. Allah tidak akan hanya memberikan keberkahannya secara ‘cuma-cuma’, namun ummatnya harus bekerja keras untuk mencapainya.

QS 2:2-4

🐰 Allah menyebutkan ada 2 jenis orang yang bertaqwa: seperti yang disebutkan pada ayat 3 (beriman dan beramal shaleh), dan pada ayat 4 (berpengetahuan terhadap kitab dan hari akhir).

🐰 analogi kelompok pertama adalah orang-orang pada kelompok ekonomi bawah-menengah, mereka menghabiskan sehari-hari untuk bekerja dan beribadah namun tidak mempunyai waktu untuk menyelami qur’an dan hadits; sedangkan analogi kelompok kedua adalah orang-orang yang mendapat beasiswa dan kesempatan lebih untuk mempelajari islam secara mendalam.

🐰 banyak orang yang menganggap bahwa hanyalah kelompok kedua yang dapat dianggap ‘bertaqwa’, padahal secara jelas Allah menyebutkan bahwa keduanya termasuk orang-orang yang bertaqwa sesuai dengan keadaan yang Allah turunkan kepada mereka, dan mereka adalah orang yang beruntung.

🐰 kita hidup di masa dimana semua kemudahan untuk belajar dapat diperoleh dengan mudah, internet, video, kelas akhir pekan, pengajian, dsb, namun ingat bahwa Allah sengaja menurunkan kemudahan ini untuk kita dengan pertanggungjawaban besar di baliknya: kita harus bisa membukakan pintu dan meneruskan ilmu-ilmu yang kita dapat kepada orang-orang yang diberikan keterbatasan oleh Allah, orang-orang yang sibuk dan tidak punya waktu.

🐰 bukannya kita menjudge mereka yang tidak meluangkan waktu untuk mempelajari islam, namun seharusnya kita yang mendatangi mereka dan membantu mereka belajar di sela kesibukan mereka.

QS. 2:6

🦁 “sesungguhnya orang-orang yang kafir, sama saja bagi mereka apakah kamu peringatkan atau tidak, mereka tidak akan mempercayai.”

🦁 Ada 2 jenis orang kafir yang disebutkan dalam ayat ini: kafir Mekkah yang sangat bernafsu membunuh Rasulullah tanpa punya pengetahuan apa-apa tentang qur’an sebelumnya, dan kafir Madinah yang paham bahwa isi qur’an adalah benar namun mengingkarinya, dan bekerja sama dengan kafir Mekkah untuk menghalangi dan membunuh Rasulullah.

🦁 dalam ayat ini Allah menegaskan keberadaan kelompok kedua, yang bahkan sebelum qur’an diturunkan pun sudah mengingkari keberadaan petunjuk dari Allah, sehingga karena kebencian dan keingkaran mereka itu maka sama saja hasilnya entah diberikan peringatan atau tidak, mereka akan tetap ingkar.

🦁 Allah menggunakan kata “peringatan” di sini sebagai petunjuk bahwa Rasulullah mendakwahi mereka bukan hanya dengan kabar gembira (syurga), ajaran-ajaran kebaikan, namun telah mencapai tingkatan peringatan atas hukuman (hari akhir), karena mereka yang diperingati tidak mempercayai hari akhir (ummat yang percaya pada taurat, alias ummat yahudi).

🦁 dalam ayat ini juga Allah menggarisbawahi betapa jahatnya kafir Mekkah: mereka mendapat porsi hidayah qur’an sebanyak 2/3 isi qur’an selama Rasulullah di Mekkah, Rasulullah menghabiskan sebagian besar waktu dakwah dan hidupnya di Mekkah, sehingga mereka sebenarnya mendapat kesempatan besar untuk menjadi ummat pertama islam, namun mereka tetap saja berusaha untuk membunuh Rasulullah, sehingga Allah mencap mereka kriminal terburuk dari yang terburuk dan sudah tidak punya harapan untuk mendapat hidayah lagi.

🦁 namun Rasulullah tetap berusaha mendatangi Mekkah (via perjanjian Hudaibiyah), mendakwahi mereka kendati Rasulullah sudah hidup tenang di Madinah.

🦁 ketika ummat muslim Madinah siap menyerang Mekkah karena mengira Utsman dibunuh ketika sedang bernegosiasi tentang ibadah haji, Allah menahan mereka untuk menyerang karena Allah memberikan petunjuk dan mengetahui bahwa di Mekkah ada beberapa orang yang diam-diam menganut islam, menjalankan shalat 5 waktu meski hanya menggunakan isyarat kedipan mata.

🦁 ayat ini menunjukkan bahwa kata “kafir” di sini bukan menunjukkan orang-orang yang non-muslim, tapi orang-orang yang benar-benar menjadi musuh terburuk islam, yang paling keras kepala, tidak bisa sama sekali diubah pemikirannya kendati diturunkan petunjuk qur’an; karena non-muslim bukan kata yang tepat untuk merujuk kepada orang-orang yang belum memeluk islam, qur’an lebih suka menyebut mereka sebagai “orang-orang yang berpotensi masuk islam”.

🦁 islam tidak pernah mengajarkan ummatnya untuk membenci ummat agama lain, karena sesungguhnya kita berasal dari sumber yang sama yakni nabi Adam, namun adalah kewajiban kita untuk mencintai mereka dan berusaha memberikan pemahaman bahwa islam adalah petunjuk yang sebenar-benarnya petunjuk.

🦁 contoh kasus: nabi Nuh tidak pernah membenci anaknya kendati anaknya menentang ajarannya, nabi Ibrahim tidak pernah membenci ayahnya kendati ayahnya berbeda keyakinan, Rasulullah berdiri ketika iring-iringan jenazah Yahudi lewat dan bersabda, “bukankah kita semua adalah anak dari Adam”.

QS 2:7

πŸ₯ “Allah telah menutup hati-hati mereka dan pendengaran mereka, dan kepada penglihatan mereka diberikan penutup, dan bagi mereka azab yang besar.”

πŸ₯ “khatam” di ayat ini diumpamakan seperti segel yang pada masa dahulu digunakan untuk menutup amplop yang berisi surat yang telah selesai ditulis, terbuat dari logam cair yang diteteskan di atas amplop agar amplop tersegel sempurna.

πŸ₯ hal ini menunjukkan bahwa bagi mereka (orang-orang kafir Mekkah dan Madinah) sudah selesai kesempatan yang diberikan kepada mereka, Allah sudah menutup rapat kesempatan mereka, dan sudah tidak ada harapan lagi bagi mereka untuk mendapat petunjuk Allah.

πŸ₯ ayat ini juga menunjuk kepada orang-orang yang awalnya bertaqwa dan beriman, namun tidak menjaga keimanan dan ketaqwaannya, tidak melatih spiritualnya untuk tunduk kepada Allah, maka akan tiba saatnya Allah memberikan “segel” di dalam hati mereka dan Allah mencap mereka “selesai”.

πŸ₯ hal ini menunjukkan bahwa ketika seorang manusia meninggalkan Allah, itu bukan karena qadarullah, namun karena usaha minim dari seorang manusia tersebut untuk menjaga dan merawat apa yang Allah sudah berikan kepadanya (hidayah), analogi: orang yang tidak menjaga harta dan kesehatannya maka akan tiba saatnya Allah mengambilnya kembali, dan tidak akan ada yang berkata “qadarullah Allah mengambil kembali apa yang kamu punyai”, melainkan “salah kamu sendiri kenapa kamu tidak menjaganya ketika Allah sudah memberikannya”.

πŸ₯ hati adalah tempat rahmat tumbuh, ketika hati telah hilang maka rahmat juga akan hilang; hati adalah tempat untuk bersyukur, ketika hati telah hilang maka rasa syukur akan hilang mengikutinya; hati adalah tempat ketakutan, ketika hati telah hilang maka tidak akan ada lagi rasa ketakutan; hati adalah tempat harapan, ketika hati tidak ada maka hidup akan dijalani sesukanya tanpa harapan; hati adalah tempat rasa bersalah, ketika hati telah hilang maka perbuatan paling buruk pun akan dianggap sebagai bukan apa-apa; hati adalah tempat malu, ketika hati telah hilang maka hilanglah rasa malu; hati adalah tempat tanggung jawab, ketika hati telah hilang maka rasa tanggung jawab pun ikut hilang; hati adalah tempat rasa hormat, ketika hati telah hilang maka semua rasa hormat kepada diri sendiri dan orang lain akan hilang seluruhnya.

πŸ₯ kronologis yang Allah sampaikan lewat ayat ini adalah tersegelnya hati, diikuti telinga dan mata, karena ketika hati telah tersegel maka apapun yang didengar oleh telingan dan dilihat oleh mata maka tidak akan ada artinya lagi untuk membuka pintu hati.

 

*dirangkum dari kajian tafsir Al-Baqarah harian Nouman Ali Khan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s