Resume kajian Ustadz Nouman Ali Khan ( 1 Ramadhan 1437H dan 2 Ramadhan 1437)

Tafsir Surah Al-Baqarah : 1-3

🌷 Dalam Al-quran di awal surah seringkali kita temui kata yang tak diketahui artinya. Seperti halnya “alif lam mim” di depan surah Al-baqarah. Ternyata, Allah sengaja menurunkannya dan meminta Rasulullah menyampaikannya kepada ummat untuk menunjukkan bahwa walaupun Rasulullah buta huruf, tapi ada ‘guru’ yang mengajarkan beliau huruf, yakni Allah sendiric agar semua orang yang didakwahi terkejut dan bertanya-tanya siapa yang mengajari beliau huruf, padahal beliau buta huruf. Seperti orang pedalaman di gunung atau hutan, mereka dapat berbicara dan mengucapkan kata-kata tapi tidak tahu apa huruf yang mereka ucapkan, seperti itulah perumpamaannya.

🌷“Alif lam mim” yang tak ada seorang pun yang tahu artinya ditaruh di ayat paling pertama, di surah paling pertama dalam al-qur’an adalah sebagai peringatan untuk para pembacanya bahwa “kamu tidaklah mengetahui apa-apa soal al-quran ini, jadi jangan sekali-kali mengkritisinya, dan pelajari sebaik-baiknya”. Ini juga menunjukkan bahwa manusia itu sejatinya bodoh sebelum Allah turunkan segala ilmu. Bahkan sekalipun seluruh manusia bersatu memecahkan misteri al-qur’an, maka tidak ada seorang pun yang bisa memecahkan ‘kode’ yang Allah sengaja selipkan, agar manusia senantiasa rendah diri.

🌷 Pada ayat kedua membahas tentang kata “kitaaba” yang dipilih Allah. Padahal zaman dulu mereka (masyarakat yang hidup di zaman Rasulullah) tidak familiar dengan sesuatu yang namanya kitab.

Kitab dalam bahasa arab dijelaskan sebagai sesuatu yang dilisankan dan kemudian dituliskan. Ibaratnya seperti kita SD dulu, guru melisankan bacaan dan kita tulis di buku. Seperti yang diketahui, masyarakat di zaman Rasulullah hanya familiar dengan tulisan-tulisan di tulang unta atau batu-batu. Ternyata melalui kata “kitaaba” Allah ingin menunjukkan bahwa Al-Qur’an ini bukan buatan Rasulullah. Tapi diturunkan oleh Allah, dan Rasulullah hanya ‘menyalin’ dan meneruskan saja.

🌷 Masih ayat kedua yang membahas bagian akhir ayatnya, “hudallil muttaqiin”

Muttaqiin kalau dalam bahasa indonesia dapat diterjemahkan sebagai orang-orang yang bertaqwa. Tapi kalau ditranslasi ke dalam bahasa inggris, “muttaqiin” itu hanya dapat ditranslasi menjadi kata kerja, yaitu orang-orang yang melindungi dirinya sendiri (“people who protect themselves”). Masalahnya, kata kerja dalam bahasa inggris itu bentuknya berubah-ubah sesuai tenses (past, present, future), sehingga kemudian hanya dengan membaca terjemah al-qur’an, ada kebingungan bahwa orang-orang bertaqwa yang pantas dicontoh cuma ada di masa lalu (“people who protected themselves”). Padahal, kata “muttaqiin” tidak hanya berlaku untuk orang-orang yang bertaqwa di masa lalu, tapi juga di masa sekarang (“people who protect themselves”). Sehingga penting untuk kita mencari role model “muttaqin” tidak hanya dari masa lalu (masa Rasulullah) namun juga masa kini (ulama, mu’minin, dsb).

Dijelaskan juga bahwa Taqwa tidak selalu beriman, tapi beriman insyaa Allah adalah taqwa. Taqwa itu artinya orang-orang yang melindungi diri sendiri dan orang lain dari keburukan dan saling menyakiti.

Contohnya Abu Bakar, sebelum masuk Islam beliau sudah terkenal dengan orang yang lembut dan berhati-hati dalam perkataan. Sehingga beliau sudah bertaqwa lebih dulu sebelum kemudian beriman.

Walaupun secara umum Qur’an dibagi 2, Makkiyyah (ajakan masuk Islam) dan Madaniyyah (pembelajaran bagi mu’min), tapi sesungguhnya ajakan untuk terus bertaqwa senantiasa ada bahkan sampai Madaniyyah.

🌷 “Alladziina yu’minuuna bil ghaibi” menunjukkan bahwa tidak semua hal perlu dipercaya karena ada bukti saintifik. Walaupun manusia saat ini butuh bukti saintifik untuk segala sesuatu, yang bisa diukur dengan 5 panca indera, namun sebenarnya tidak semua hal perlu dibuktikan, cukup dipercaya dan diimani.

Contohnya cinta, ia tak bisa dibuktikan dengan sains tapi banyak orang percaya kekuatan cinta. Dan walaupun orang-orang beriman tidak dapat melihat segala sesuatu yang mereka imani (Allah, malaikat, dsb), tapi mereka menyerap segala sesuatu yang ada di dalam realita untuk menghidupkan iman mereka.

By: Alfi&Icha

#30hari30tulisan #day3ramadhan #diaryramadhanicha #kajianustadnouman

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s