Cerita Icha

Ramadhan WritingProject #2: Mush’ab bin Umair

Dialah kebanggaan seluruh umat manusia. Disebut-sebut sebagai pemuda paling menonjol, paling tampan (jangan membayangkan Aliando, karena saya yakin Aliando tak ada apa-apanya #eh), dan paling bersemangat. Lahir dengan penuh kenikmatan dunia, mewah, manja, selalu dielu-elukan, bintangnya rapat, dan segala hal yang sarat dengan kesepurnaan.
Tapi siapa sangka, ialah satu di antara orang-orang yang ditempa oleh Islam dan dididik Muhammad.
Pada suatu hari, Mush’ab terkagum dan terpesona dengan ayat-ayat Al-quran yang mengalir dalam hati Rasulullah. Bergema melalui kedua bibir beliau, mengalir menembus telinga, merasuk ke dalam hati. Inilah awal mula ia masuk islam. Disinilah awal mula hati yang bergejolak panas menjadi tenang dan damai, menjadi setenang samudera yang dalam.
Mush’ab rela meninggalkan apa-apa yang telah melekat pada dirinya demi cintanya pada Allah dan Rasul-Nya. Termasuk meninggalkan ibunya yang sangat marah luarbiasa dan menentang habis-habisan keputusan Mush’ab untuk masuk Islam. Sehingga ia pun dikurung, disekap di suatu kamar.
Setelah berhasil lolos dari kurungan atas perintah ibunya sendiri dengan berbagai strategi, ia pun langsung hijrah ke Habasyah. Kaum muslimin menangis melihat penampilan Mush’ab yang memakai jubah usang yang tertambal-tambal. Padahal, masih segar dalam ingatan mereka bagaimana penampilan Mush’ab sebelum masuk Islam. Begitulah Mush’ab, sejak ia tak lagi bersama kedua orangtuanya, sejak itu pula lah, ia tak pernah lagi mendapatkan apa-apa yang menjadi kesenangan diri dari orangtuanya. Akan tetapi, jiwa Mush’ab telah dihiasi akidah suci dan cahaya ilahi. Ia berwibawa. Ia disegani. Ia berani meninghalkan kemewahan dan memilih hidup miskik serba kekurangan.
Mush’ab bin Umair gugur sebagai syuhada pada perang Uhud. Kala itu, Mush’ab adalah pembawa bendera pasukan. Tangan kanan dan kirinya putus saat ia mengibarkan bendera yang memang harus selalu dikibarkan dan dadanya menjadi incaran tombak musuh, sehingga ia gugur. Gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada, mengorbankan segala yang dimilikinya demi keimanan dan keyakinannya.
Ada kesedihan yang begitu mendalam saat mata Rasulullah melihat kain yang dipergunakan untuk mengkafani Mush’ab.
Beliau bersabda: “ketika di Mekkah dulu, tak ada seorangpun yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripada kamu. Tetapi sekarang ini, rambutmu kusut dibalut sehelai burdah.”

Allahu’alam bishshawaab.

*disadur dari berbagai sumber

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s