Cerita Icha

Ramadhan WritingProject #1: Ikhlas

Ikhlas adalah inti amal dan penentu diterima tidaknya suatu amal disisi Allah. Amal tanpa ikhlas bagaikan kelapa tanpa isi, raga tanpa nyawa, pohon tanpa buah, awan tanpa hujan, anak tanpa garis keturunan, dan benih yang tidak tumbuh (Syeikh Abu Thalib Al-Makki).

Saya ingat betul apa yang pernah guru ngaji saya bilang. Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas.

Sambil menulis apa-apa yang beliau sampaikan, saya bertanya-tanya dalam hati. “Apakah iya segitu dalamnya makna ikhals sampai disebut-sebut buhanya iman. Ikhlas doang. Aaahh bisalah.”

Namun, lambat laun, saya semakin paham apa yang dimaksud guru ngaji saya itu. Pengalaman-pengalaman hidup memberikan pelajaran untuk saya dan secara tidak langsung saya belajar ikhlas. Ternyata pengamalan ilmu ikhlas benar-benar terasa sulit. Sulit karena dalam ikhlas adalah tentang merahasiakan sesuatu hanya harus diketahui oleh Allah dengan kita sebagai hamba-Nya. Rahasia itu membuat Malaikat pencatat tidak mengetahui sedikitpun sehinga ia tak dapat menuliskannya, setan tidak mengetahui hingga tak dapat dia rusak, nafsu pun tidak menyadari sehingga tak mampu ia dipengaruhi. Belajar dan mengamalkan ikhlas tak melulu tentang menerima kenyataan, merelakan sesuatu, tapi penjabarannya sampai ke ibadah, amalan-amalan, tauhid, serta pujian dan celaan.

Contoh, bersedekah atau menolong orang lain. Dengan anggapan bahwa segala yang dilakukan hanya mengharap ridha Allah dan tidak membutuhkan balasan maupun ucapan terimakasih. Namun, suatu ketika, dalam waktu yang sudah terlewat sangat lama, kita mengingat-ngingat di dalam hati sedekah yang pernah kita beri ke orang lain dan mendapati bahwa orang itu tidak pernah memberi apapun kepada kita. Disinilah jelas sekali, ketulusan menjadi tanda tanya. Sudahkah ikhlas? Apakah pamrih?

Contoh lain. Seorang ahli ibadah selama lima puluh tahun melihat dirinya sebagai orang yang tulus beribadah, tidak pernah menginginkan balasan dan tidak pula ucapan terima kasih, baik dalam hal yang tampak ataupun tidak tampak. Suatu ketika, penyakit tumbuh dalam jiwanya. Orang-orang mencatat nama-nama kaum saleh, tetapi mereka tidak menulis namanya atau mereka menulisnya di deretan terakhir. Akhirnya, antara ketulusan dan pamrih dalam beribadah semakin nyata perbedaanya.

Sekarang, mari kita cek. Apakah selama ini kita telah mampu masuk dalam orang-orang Yang Ikhlas.

Orang-orang yang ikhlas memiliki ciri yang bisa dilihat, diantaranya:

  1. Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.”
  2. Terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam hadits, “Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah (HR Ibnu Majah)”. Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.
  3. Dalam dakwah, akan terlihat bahwa seorang dai yang ikhlas akan merasa senang jika kebaikan terealisasi di tangan saudaranya sesama dai, sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya. Para dai yang ikhlas akan menyadari kelemahan dan kekurangannya. Oleh karena itu mereka senantiasa membangun amal jama’i dalam dakwahnya.

Allahu’alam bishshawaab.

*disadur dari berbagai sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s