Cerita Icha · Cerita Travelling · Uncategorized

Hari ke #5 “Welcome to Goreme”

Pemandangan sunrise mengintip-ngintip malu di balik gunung saat bus kami resmi memasuki kota Goreme. Beberapa menit lagi kami pun akan turun di tempat pemberhentian bus yang dekat dengan tempat kami menginap. Pertama kali kaki saya menginjak goreme, saya sudah takjub, mata saya berbinar-binar. Mungkin, ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama *tsah!

DSC_0117
sunrise 😉

Berada di Goreme seperti berada di dunia lain. Kenapa? Disini tersebar batu raksasa! Iya, batu raksasa.  Coba kamu bayangkan batu itu seukuran rumah. Nah, batuan raksasa yang seukuran rumah itulah yang dikeruk penduduk untuk dijadikan rumah-rumah penduduk, hotel, gereja, restoran, terowongan dan lain sebagainya. Sensasi berada di kota Goreme itu luarbiasa. Unik dan indah. Yang saya pikirkan adalah “ngeruknya pakai apa ya?”

DSC_0400
liat ada jendela kan? berarti ada penghuninya

Tak hanya itu, lembah, ngarai, dan bukit juga menjadi pemandangan menakjubkan di seluruh wilayahnya. Tapi tetap saja,  yang paling menjadi daya tarik turis adalah batu raksasanya.hehe. Info yang saya dapat adalah bebatuan-bebatuan berukuran raksasa ini terbentuk akibat hujan dan angin yang mengikis permukaannya selama ribuan tahun silam.

DSC_0483
berasa di dunia fantasi kan?
DSC_0620
batu-batu raksasa

Kalau mungkin orang-orang lebih memilih hotel batu, saya ketika ditanya suami mau nginap di hotel biasa atau batu, maka saya dengan tegas memilih hotel biasa saja. Alasannya, setelah saya me-review dan melihat foto-foto kamarnya, saya merasa tidak cocok untuk tidur disana. Keliatannya dingin, suram, kurang bersih dan sebagainya, yang menambah tingkat ketidaknyamanan jika menghabiskan sepanjang malam di kamar hotel batu. Tapi, jika kamu ingin merasakan sensasi nginap di hotel batu ini, mungkin layak dicoba juga. hehe. Jadi, tergantung selera masing-masing yah.

Setiba di hotel tempat kami menginap, yang mungkin dari luarnya terlihat berbatu (tapi sebenarnya bukan), kami langsung menemui ruang resepsionis. Ternyata, kami baru bisa check-in pukul 10 pagi. Sedangkan waktu itu, masih pukul 8 pagi. Akhirnya, kami memutuskan untuk keluar dan mencari sarapan. Setelah mengalami celingak-celinguk cukup lama, dan berjalan cukup jauh dari hotel,  maka tibalah kami di salah satu warung  yang mungkin satu-satunya warung yang buka pada pagi itu.

Kondisi warung waktu itu cukup ramai. Kami pun memesan dua Gozleme dengan isian daging cincang dan keju dan dua gelas cay. Gozleme ini bentuknya seperti martabak asin di  Indonesia, tapi lebi tipis. Rasanya enak, dan salah satu yang saya suka dari semua makanan Turki lainnya. Sedangkan cay ini adalah teh khas turki. Tidak hanya disajikan dalam gelas yang berukuran kecil dan bentuk gelas yang unik berpinggang langsing, tapi pembuatannya pun juga sangat khas, tidak dibuat secara instan dengan hanya mencelupkan teh ke air panas, namun orang Turki selalu menyeduh teh dengan merebus dedaunan teh dalam teko khas Turki yang disebut demlik. Rata-rata harga teh ini 1 TL-2 TL, malah ada yang dikasih gratis.

DSC_0860
sarapaaaaan

Setelah dirasa cukup kenyang, kami pun balik dan sudah diperbolehkan untuk check-in. Benar saja, kamarnya wangi, luas, dan paling penting bersih.

Setelah bebersih diri dan istirahat, kami pun keluar agak siang. Sebenarnya tujuan hari ini tidak ada, hanya ke sunset view aja dan jalan-jalan di sekitaran goreme yang dekat dengan hotel.

DSC_0434
ini serem. JANGAN DIULANGI LAGI YA! Hiks

Dikarenakan musim panas, maka sunset baru akan ada sekitar pukul 8 malam. Kondisi badan saya waktu itu juga kurang enak, jadi kami pun turun dari puncak ke bawah,balikke hotel, dan berniat untuk ke sana lagi keesokan harinya.

DSC_0607
feel free!

 

 

 

 

 

Advertisements

5 thoughts on “Hari ke #5 “Welcome to Goreme”

    1. Halo Fanny, saya suami Icha, mau mewakilkan menjawab ya,

      Di terminal bus yang ada di Selcuk (“Selcuk Otogari”), ada banyak sekali mini bus yang menyediakan jasa pengantaran ke Ephesus, kalau tidak salah setiap satu atau setengah jam sekali, letak kiosnya di depan toko yang ada di paling pojok (jika berdiri menghadap terminal, maka tokonya ada di sebelah kiri). Nanti ketika di Ephesus, mini bus ini akan berhenti di suatu tempat dan sang supir akan bilang kepada penumpang bahwa mereka akan kembali menjemput dan membawa kembali ke Selcuk dari tempat yang sama, setiap satu atau setengah jam.

      Semoga menjawab pertanyaannya 🙂

      Like

    1. Halo, kalo tidak salah, harga gozleme sekitar 8-12 lira, saya ga ingat pastinya. Untuk makanan yang cukup bersahabat dengan lidah indonesia, bisa coba ke warung makan atau bentuknya mirip2 warteg di indonesia, di turki disebut lokanta (bisa searching untuk lebih jelasnya). Biasanya dekat pemukiman penduduk atau di pasar2 banyak sekali lokanta. Menunya banyak, seperti ayam dan daging yang kaya bumbu rempah, sup lentil, salad, dan yang pasti ada nasi. Selamat jalan-jalan ya:)

      Like

    2. Halo, kalo tidak salah, harga gozleme sekitar 8-12 lira, saya ga ingat pastinya. Untuk makanan yang cukup bersahabat dengan lidah indonesia, bisa coba ke warung makan atau bentuknya mirip2 warteg di indonesia, di turki disebut lokanta (bisa searching untuk lebih jelasnya). Biasanya dekat pemukiman penduduk atau di pasar2 banyak sekali lokanta. Menunya banyak, seperti ayam dan daging yang kaya bumbu rempah, sup lentil, salad, dan yang pasti ada nasi. Selamat jalan-jalan ya:)

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s