Cerita Icha · Cerita Travelling · Uncategorized

Turki Hari ke #4 “Pamukkale”

Kami check-out dari hotel tempat kami menginap sekitar jam 6.30 pagi. Dari hotel, kami langsung menuju terminal bus dan membeli tiket bus menuju Pamukkale. Setelah selesai dengan urusan per-tiket-an, kami pun mencari tempat makan untuk sarapan kami pada pagi itu. Setelah muter-muter cukup lama ternyata tak ada satu pun warung-warung kebab yang buka. Hanya beberapa toko-toko roti dan kafe kopi yang buka dan dipenuhi warga yang merasa bosan sarapan di rumah. Berhubung saya lagi tak ingin makan roti, maka saya memutuskan untuk kembali ke terminal dan masuk ke salah satu warung yang ada disana. Dan ternyata, menu-menu yang tertera di papan warung mereka juga belum tersedia pagi itu. Waktu itu cuma ada menu sarapan khas turki, dan kami pun memilih sup yang cukup menarik tampaknya di buku menu dan dua cangkir teh khas turki. Harga sup ini sekitar 2 TL dan 1 cangkir teh seharga 1 TL, maka untuk sarapan kali ini kami cukup mengeluarkan uang 4 TL saja. Harga yang sungguh bersahabat dengan kantong kami yang makin lama makin menipis *halah*. Sesungguhnya saya tidak terlalu tertarik dan tidak terlalu bersemangat memakannya. Tapi demi kelangsungan hidup di ekosistem, maka saya (terpaksa) memakannya sesuap demi sesuap. hiks. Lentil sup (begitu konon nama yang tertera) ternyata terbuat dari jenis kacang yang namanya lentil dan dihidangkan bersama roti dan lemon. Suami saya keliatannya sangat menikmati sup ini dan beberapa kali mencocol roti dengan sup. Doyan atau lapar?hihi. Oh ya perlu diketahui, roti ini gratis alias ambil sesukanya. Biasanya, di warung-warung memang selalu menyediakan roti keras ini di meja-meja makan. Mungkin, fungsinya sama dengan kerupuk, sebagai teman makan.

Selesai sarapan, kami menuju ke sebuah agen travel dan tour tempat kami membeli tiket tadi. Kami duduk-duduk disana sambil menunggu bus ke Pamukkale tiba. Waktu itu, bapak-bapak pemilik agen ini memberitahu bahwa bus nya sudah sampai. Ternyata yang akan membawa kami ke Pamukkale bukan sejenis bus tapi sejeni mobil van yang hanya muat sekitar 10-12 orang dan sudah ada beberapa penumpang di dalam mobil tersebut.

Mobil pun melaju menuju Pamukkale. Di tengah perjalanan suasana terasa ramai sekali karena rombongan lansia ngobrol dan ketawa yang kadang membuat saya kaget tiba-tiba. heuheu.

Dengan lama perjalanan sekitar 3 jam, akhirnya kami pun sampai di Pamukkale. Beruntung, kami tak mesti transit di kota Denizli, karena mobil yang membawa kami tadi sudah langsung menurunkan kami di sebuah agen tour and travel yang dekat dengan tujuan kami: Travertine. Setelah menitipkan tas di agen tersebut, kami pun langsung meluncur ke arah Pamukkale National Park. Cukup hanya berjalan kaki 5- 10 menit kami pun sampai.

Edited2-0529
Pamukkale National Park

Harga tiket masuk ke Travertine dan Hierapolis adalah 20 TL per orang. Untuk menuju Travertine kami harus rela melepas alas kaki. Selain menaati peraturan *ceileh*, mengotori travertine, juga demi keselamatan pengunjung, yang tentu saja berjalan-jalan di atas travertine akan sangat licin sekali dan mudah terpeleset jika memakai alas kaki sepatu maupun sendal. Di sepanjang kawasan Travertine juga dilarang memakai tripod dan sejenisnya. Tapi, kebanyakan dari turis tidak tahu ada peraturan begitu, dan salah satu nya adalah kami, maka kami pun sempat diberi peringatan petugas yang meniup peluit. hoho.

DSC_0532
Mari kita masuk! *Dari jauh kayak salju ya?*

Pamukkale atau Travertine ini juga dikenal dengan nama Cotton Castle, karena memang bentuknya seperti gumpalan kapas. Gumpalan kapas yang pernah disebut-sebut sebagai situs warisan dunia ini terletak di lembah Sungai Menderes dan terbentuk karena mineral karbonat yang ditinggalkan oleh air yang mengalir.

Edited2-0546

Edited2-0548
Cotton castle

Pemandangan dari atas travertine sungguh menakjubkan yang membuat semua orang akan berdecak kagum atas karya Allah ini. Selain untuk memanjakan mata, tempat ini juga menjadi tujuan mandi-mandi di kolam alami Travertine.

Edited2-0573
Pemandangan dari atas Traventine
DSC_0559
Turis-turis nyebur
Edited2-0560
Beda jauh sama image di gugel :p

Sekitar 2 jam kami berjalan-jalan dan menikmati suguhan pemandangan travertine ini, perjalanan kami lanjutkan menuju taman-taman di bukit Travertine. Di atas dari Travertine ini berdiri sebuah kota yang amat luas, Hierapolis namanya. Karena dulunya ini adalah sebuah kota, maka jarak tempat yang satu dengan yang lain berjauhan. Kami memutuskan untuk tidak sampai atas, karena selain panas, puing-puing itu pun hampir sama saja dengan yang di Ephesus. Terdiri dari Teater, pemandian, kuburan, dan lain sebagainya.

DSC_0758

Di taman-taman yang cantik ini, kami berteduh karena suhu udara sangat panas sekali dan membuat kulit muka saya terbakar. Ini serius, muka saya tiba-tiba bersisik dan agak menghitam di bagian lipatannya. huhu. Salah saya juga sih, tidak pakai sunblock.

Edited2-0715

DSC_0625

DSC_0675

Di sana kami juga melihat ada museum. Tapi setelah “survey” sebentar, museum ini sepi dan mesti membayar 5 TL untuk masuk ke dalamnya. Entahlah, kenapa banyak turis yang tidak tertarik masuk ke dalamnya, heuheu.

Setelah merasa puas menyusuri taman-taman dan Travertine, kami pun turun. Di perjalanan kami turun ini, kami bertemu dengan rombongan anak-anak unyu yang mungkin sedang study tour dengan jumlah yang sangat banyak. Sebagian dari mereka melihat kami dengan tersenyum sambil berbisik-bisik ke teman-teman terdekatnya. Lalu, menyapa kami dengan “Konichiwa”. Oemji, mereka pikir kami adalah sepasang turis Jepang yang mungkin saja asumsi itu datang karena melihat suami saya yang bermata sipit. Kemudian, kami juga bertemu dengan keluarga Indonesia. Kami pun sempat berkenalan dan saling bertanya tentang rute perjalanan setelah ini dan di Indonesia kami tinggal dimana. Alangkah senangnya saya, karena si ibu-ibu itu adalah asli minang juga, jadi lah kami sedikit berbasa basi dengan bahasa Minang hehe. Sesampai di pintu keluar,  saya baru ingat tidak membawa kaos kaki cadangan dan kaos kaki yang saya saya pakai telah basah karena jalan-jalan di atas Traventine dan kolam-kolam pemandian. Akhirnya, tanpa pikir panjang, suami rela memberikan kaos kakinya untuk saya pakai, walaupun  awalnya saya sempat menolak hehe *jual mahal dulu haha*.

DSC_0776
Ini dia pelakunya haha
Edited2-0824
Pas turun, poto-poto lagi

Setelah turun, kami pun segera mencari restoran untuk makan siang. Dan kami pun melipir di sebuah restoran yang saya lupa namanya. Restoran ini sepi sekali. Hanya ada 2 meja yang terisi, satunya adalah meja kami dan satu lagi meja sepasang muda mudi yang mungkin juga baru menikah,hehe.

Kami memesan makanan yang mirip pizza. Terbuat dari adonan roti yang diberi aneka topping seperti daging cincang, tomat, seledri, bawang bombay, kemudian di panggang di oven tradisional. Pizza dengan harga 12 TL ini tersaji dalam keadaan yang telah dipotong-potong. Rasanya? Enak, saya sih suka-suka aja, lapeeer soalnya! Meskipun sepi, tidak menyurutkan niat si pembuat pizza ini untuk memberikan pelayanan sebaik-baiknya dan menyuguhkan rasa yang sampai sekarang masih bisa saya rasakan *haha lebay*.

DSC_0830

Tidak jauh dari tempat kami makan, terdapat masjid untuk kami shalat dzuhur dan ashar. Setelah dari sana, kami pun menuju ke tempat agen yang tadi, mengambil barang-barang yang dititipkan dan kemudian menuju ke pusat kota Denizli dengan menaiki angkot (Dolmus) yang lewat tiap kali 30 menit. Angkot ini pun berhenti ke terminal tempat kami akan naik bus menuju tujuan berikutnya dengan lama perjalanan sekitar 30 menit.

Dikarenakan waktu itu baru pukul 6 sore sedangkan bus tujuan Goreme berangkat pukul 8 malam, kami pun duduk-duduk saja dan meluruskan kaki karena jalan seharian di dalam terminal. Sambil duduk-duduk ini di depan kami ada seorang kakek-kakek gitu mengajak kami ngobrol dan saya sama sekali tidak mengerti apa yang ia katakan, karena tentu saja si kakek ngomong dalam Bahasa Turki. Saya dan suami hanya tersenyum dan mengangguk-ngangguk saja untuk merespon setiap yang ia katakan. Kemudian, kakek ini pun menghampiri kami dan penasaran dengan apa yang kami lihat di laptop. Memang saat itu, kami sedang melihat foto-foto perjalanan dan memindahkannya dari memory kamera ke laptop. Tampak, si kakek tersenyum dan ngomong-ngomong lagi dan bercerita tentang sesuatu yang kami pun bingung harus meresponnya bagaimana haha.

Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang. Bus yang akan mengantarkan kami menuju Goreme sudah terlihat parkir di area terminal. Saya baru ingat, lupa beli cemilan. Tapi, ya sudahlah. Kami mnegharapkan snack dari bus saja hehe. Oiya, saya lupa cerita, di bus-bus antar kota biasanya penumpang dilayani oleh Pramugara yang berdasi macam di pesawat. Lucu ya?!

Daaaan, mari kita tidur, karena perjalanan menuju Goreme baru akan sampai esok pagi.

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s