Honeymoon Backpacker 1 – Paris

Disclaimer: tulisan ini disusun pada tanggal 2 Juni 2015 di blog pribadi saya (melisarahmadini.wordpress.com), dan disadur ulang di sini 29 Maret 2016.

Sudah satu bulan 13 hari saya berada di benua biru Eropa. Sehari setelah resepsi pernikahan, saya dan suami langsung kabur(?) ke negara Perancis. Kebetulan, semester dua perkuliahan ini suami pindah ke kota Nancy, yang mana enam bulan sebelumnya menjalani semester satu di kota Liege, Belgia.

Mendengar negara Perancis, ingatan saya langsung tertuju pada kota Paris, jantungnya negara ini, kota paling masyur dan paling “mewah” yang pernah saya ketahui. Bagaimana tidak, di kota ini, menjulang angkuh sebuah menara, yang bagi siapa saja akan berdecak kagum melihatnya: Menara Eiffel, terkenal di seantero belahan dunia.

Setelah sepekan kami di kota Nancy, kami pun sudah merencanakan untuk jalan- jalan ke Kota Paris. Ah saya begitu excited!

 

25 Maret 2015, hari pertama

Sepulang suami dari sholat jumat di city center, kami pun langsung menuju tempat dimana kami janjian untuk ketemuan dengan seorang mas-mas yang akan menumpangi kami menuju Paris selama 4 jam. Ah ya, kami menggunakan car sharing seharga 25 euro per orang. harga yang cukup bersahabat. Pemesanannya ada di web ini: covoiturage.fr. Saya dan suami berasa punya sopir pribadi dengan mobil sekelas BMW. Kyaaaa.

Mobil berhenti di stasiun Gare de Lyon dan pada saat itulah kami juga berpisah dengan mas-mas bergaya parlente ini (katanya habis pulang rapat sekali seminggu di Nancy). Kemudian, kami langsung membeli tiket metro pada sebuah mesin tiket untuk menuju hotel. Tidak lupa pula kami mengambil peta jalur metro bawah tanah yang bersebaran dimana-mana dengan tujuan mulia: agar pelancong tidak tersesat . Petanya sangat informatif, sangat membantu menemukan berbagai titik keren di kota Paris. Tidak butuh banyak waktu untuk sampai ke hotel Bearnais (yang sudah kami booking sebelumnya di hostelworld.com). Hanya butuh jalan kaki dari stasiun Anvers ke hotel. Hotel kami berada pada titik yang sangat ramai dikunjungi oleh pelancong dari berbagai negara (tapi entah kenapa saya lebih sering menemui segerombolan kakek-nenek bermata sipit bersama satu-dua orang pemandu). Di sekitaran jalan menuju hotel, kanan kiri mata memandang, banyak toko-toko yang berjualan souvenir. Selidik punya selidik, ternyata di belakang hotel kami  adalah Sacre Coeur, yang terdapat sebuah bangunan megah berwarna putih di puncak bukit Montmartre, titik paling tinggi di Kota Paris. Pantes saja.

p4260394.jpg
Toko-toko souvenir dekat hotel penginapan kami
p4260395.jpg
Berbagai macam jenis souvenir yang dijual, mulai dari gantungan kunci sampai kaos

Setiba di hotel, kami langsung istirahat sebentar, makan malam, dan sholat. Alhamdulillah, Hotel kami cukup nyaman dan strategis dengan harga per malam yang lumayan murah. Pukul 9 malam kami pun keluar hotel dan menurut itenerary perjalanan, kami akan ke Menara Eiffel malam ini, melihat kerlap-kerlip lampu yang membuat Eiffel semakin memesona dan elegan. Berangkat dari stasiun Anvers dan beberapa menit kemudian sampai di stasiun Trocadero yang sungguh ramai disesaki manusia berpakaian tebal untuk melindungi dari angin malam yang sungguh dingin, dengan tujuan yang sama dengan kami: Eiffel. Cukup hanya berjalan kaki menuju Eiffel. Dan benar saja, Eiffel tak pernah sepi pengunjung. Semua orang membidik kamera untuk mendapatkan latar belakang Eiffel di malam hari.

P4240063.JPG
Gemerlap cahaya Tour Eiffel

Cowok saya mengajak untuk naik ke atas eiffel, tapi setelah melihat harga tiketnya, saya memutuskan untuk menolak. Ah wanita memang perhitungan sekali. Haha. Selain karena malam itu, hanya dibuka sampai first floor, ya percuma saja. Mungkin lain kali kalau berkesempatan kembali mengunjungi Paris. Kemudian cowok saya menawarkan crepes dan waffle juga minuman. Kami mencari tempat duduk di depan air mancur untuk bersantai sejenak dan ngobrol-ngobrol ringan sambil makan crepes. Dan benar saja, Paris terasa sangat romantis. Alunan nada dari pengamen jalanan menambah klimaks keromantisan, membuat siapa saja ingin berdansa. Hahaha. Di tengan-tengah kami sedang asyik mengobrol, sepasang insan mendekati kami, meminta mengambil foto untuk mereka. Saya ternganga melihat pose ciuman mereka. “ah kita juga bisa kayak gitu kok” ujar cowok saya yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal”.

P4240089.JPG
Tour Eiffel di malam hari

Malam semakin larut. Kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Istirahat dan siap untuk menyambut hari esok. Disneyland, kami datang!

 

26 Maret 2015, hari kedua

Disneyland Paris. Sebelumnya, sempat mikir berkali-kali untuk pergi ke Disneyland, tentu saja karena pertimbangan harga tiket pada peak season yang tidak murah bagi saya pribadi. Ya lagi-lagi saya masih sering mengkonversi euro ke rupiah. Tentu saja membuat saya tercekik setengah mati. Tapi, kesempatan tidak datang dua kali, dan akhirnya dengan mengucap bismillahhirrahmanirrahim, akhirnya kita memutuskan untuk seharian bermain di disneyland pada hari kedua. Yey!

Pagi hari di kota Paris cukup dingin. Karena Dinsneyland berada agak di luar kota Paris, maka dari stasiun Anvers, kami menuju ke stasiun Nations, kemudian naik kereta RER di line A dan berhenti di stasiun Marne-La-Valle/Chessy (dari stasiun ini hanya butuh jalan kaki menuju Disneyland). Dengan kisaran perjalanan kurang lebih satu jam.

P4250108.JPG
Di metro: perjalanan menuju Disneyland

Pemberhentian di stasiun sangat ramai, kebanyakan bepergian bersama keluarga karena weekend. Antrian masuk sudah mengular, namun tidak begitu lama menunggu. Sebenarnya dalam kawasan ini ada dua buah taman bermain, Disneyland Paris dan Walt Disney Studios.  Berbagai wahana menarik sangat membuat siapa saja ingin menikmatinya, tak pandang usia. Seperti Belle’s Village (Beauty and the beast), Sleeping Beauty’s castle, Peter pan, Adventureland, dan masih banyak lagi, yang tak akan dapat dinikmati dalam satu hari saja, selain juga karena antrian yang panjang. Sialnya, kami baru menyadari bahwa dapat menggunakan fastpass untuk menghindari antrian pengunjung. Kita dapat mengambil tiket terlebih dahulu, sambil menunggu, kita dapat bermain di wahana lainnya, dan kembali pada saat waktu yang tertera di dalam tiket fastpass tersebut. Awalnya, kami pikir sistem fastpass sama halnya dengan sistem fastpass di Dufan yang harga tiketnya jauh lebih mahal daripada tiket reguler.

P4250115.JPG
Ngantri dulu
P4250124.JPG
Disneyland Paris, yeay!
Edited-4250137.jpg
Sleeping Beauty Castle
P4250349.JPG
Salah satu toko souvenir di Disneyland, menjual aneka produk berkarakter Disney
P4250352.JPG
Salah satu wahana yang ada di Disneyland
P4250343.JPG
Gemesh~

Setelah puas bermain dan keliling-keliling, kami istirahat untuk makan siang dan sholat jama’ dzuhur-ashar. Pertama kali dalam hidup saya sholat di pojok sebuah bangunan dan memastikan bahwa tidak ada satu orangpun yang lalu lalang.

Hal yang sungguh mengesankan dan paling ditunggu-tunggu dari disneyland adalah pertunjukan parade yang melewati setiap jalan utama disneyland. Pukul 5 sore, pinggiran jalan sudah dipenuhi manusia. Tampak bagian depan dipenuhi anak-anak yang sudah tidak sabar melihat bintang-bintang Disney, idola mereka.

P4250368.JPG
Walau badai menghadang…

Diiringi salah satu lagu Disney yang melegenda,  satu per satu bintang-bintang Disney keluar dengan kostum yang begitu mirip dengan yang sering kita lihat di film-film. Persis. Menyapa seluruh penonton, melempar senyum, anak-anak berteriak, dan sebagian merekam. Tak peduli hujan gerimis membasahi mereka. Saya? Tak ada bedanya dengan anak-anak usia 5 tahun yang ikut-ikutan berteriak saat mata bintang Disney mengarah ke saya. Haha. Tentu tak melewatkannya juga, saya pun merekam parade tersebut. Cowok saya pada saat itu juga bersikap sangat romatis sekali, melindungi kepala saya dari rintikan hujan dengan jaketnya *melting*

Kalau saya tidak salah ingat, karakter yang muncul pertama adalah peri-peri dari setiap film Disney, disusul princess dan prince nya juga. Kemudian ada karakter Pinocchio, rombongan Alice in Wonderland, Toy Story, Lion King, Peter Pan dan yang terakhir ditutup oleh Mickey Mouse.

Usai live show, saat kaki baru terasa gempor karena jalan-jalan seharian mengelilingi Disneyland, nyobain wahana macam-macam, dan lebih banyak berdiri, dan yang pasti hari kian larut malam,  kami pun balik ke hotel. It means, kami tidak bisa melihat pertunjukan firework di malam hari. Huks. Hm, mungkin lain kali di Disneyland negara lain :p

Paris memang tak ada matinya bagi para pelancong. Paris yang begitu memesona siap untuk kita jelajahi keesokan harinya. Ah, jadi tidak sabar.

 

27 Maret 2015, hari ketiga

Hmm, tak terasa sudah hari terakhir kami berada di Paris. Setelah berberes-beres barang bawaan dan check-out sekaligus titip barang,kami pun bergegas keluar menuju salah satu icon kota Paris yang berada persis di belakang hotel kami: Sacre Coeur.

P4260385.JPG
Sacre Coeur (dan seseorang yang selfie dengan DSLR..)

Puas berfoto-foto sebentar, kami langsung berangkat menuju tujuan berikutnya yang iconic bagi Paris: Arc de Triomphe. Dengan menumpangi metro selama sekian belas menit, kami pun tiba! tapi sebelumnya di tengah perjalanan kami singgah sebentar di sebuah taman yang cukup luas. Menikmati udara segar, duduk-duduk memandangi orang-orang yang sedang berolahraga, dan tak lupa foto-foto.

Edited-4260415.jpg
Indahnya taman di Paris musim semi~

Arc de Triomphe adalah salah satu ikon terkenal dan paling diminati pelancong di seluruh dunia. Berbentuk seperti gerbang yang khusus didesain sebagai monumen kemenangan, untuk menghormati para prajurit yang gugur dalam medan peperangan Revolusi Prancis dan Peperangan Napoleon Bonaparte.

Edited-4260448.jpg
Arc de Triomphe

Perjalanan pun kami lanjutkan kembali menuju Eiffel (lagi). Tiba-tiba ada notifikasi dari handphone Alfi, bahwasanya Nadia sudah hampir sampai di Paris. Ya, jauh sebelum saya memutuskan untuk tiba di Paris, saya dan Nadia sudah janjian akan bertemu di kota ini. Nadya datang dari La Rochelle dengan kereta. Sebenarnya saya dan Nadia hanya pernah bertemu satu kali dalam sebuah konferensi di Jakarta, ketika Nadia liburan ke Indonesia. Kami akan bertemu di dekat Eiffel tower. Sambil menunggu Nadia datang, saya foto-foto lagi sama Alfi hehe.

Edited-4260499.jpg
Eiffel, je t’aime..

Tiba-tiba dari kejauhan saya melihat seseorang sedang melambaikan tangannya. Ah itu Nadia! Kami bersyukur sekali karena nadya bergabung dengan kami dan menemani perjalanan kami mengelilingi tempat-tempat wajib yang dikunjungi (alhamdulillah ada yang bisa diminta tolong buat moto kami berdua, untuk post-wedding :P). Menara Eiffel siang itu sangat ramai dikunjungi pengunjung dari berbagai negara di seluruh dunia. Eiffel benar-benar menjadi magnet para pengunjung. Memiliki daya tarik yang besar sehingga turis bisa berlama-lama disini. Mengambil kamera dari banyak sudut, hanya untuk mendapatkan pose dan latar yang bagus. Di Eiffel banyak pria kulit hitam dengan postur tinggi menjajakan dagangannya kepada turis-turis yang sedang tak ingin diganggu kebahagiannya(?). Imigran yang datang dari Afrika ini jumlahnya banyak sekali, dan beberapa dari mereka mahir berbahasa Indonesia dan Melayu! Mungkin karena saking banyaknya turis asal Indonesia dan Malaysia yang berkunjung ke Paris, hehe.

Edited-4260497.jpg
Eiffel Tower (dan saya dan suami)
P4260555.JPG
Si bocah

Puas dengan Eiffel, Nadia pun mengajak kami meluncur ke beberapa destinasi lainnya, yakni Notre Dame dan Musee de Louvre. Berhubung waktu untuk kepulangan kembali ke Nancy sudah semakin dekat, kami hanya sempat singgah sebentar-sebentar saja, huhu. Insyaa Allah lain kali akan lebih lama jalan-jalannya biar lebih puas lagi :).

Edited-4260588.jpg
Musee de Louvre
P4260600.JPG
Musee de Louvre from the inside
P4260683.JPG
Merpati di halaman Notre Dame
P4260685.JPG
Notre Dame

Last but not least, Grand Mosque of Paris! Salah satu masjid terbesar di Prancis, dan sangat indah dengan dihiasi taman-taman di dalamnya. Di sana kami melaksanakan shalat jama’ qashar Dzuhur-Ashar, sambil menikmati lingkungan sekitar masjid.

P4260697.JPG
Grand Mosque of Paris, tampak depan

Mungkin hanya sekitar 30 menit kami di sana, karena kami harus buru-buru mengambil barang di hotel dan pulang ke Nancy dengan menumpang mobil covoiturage. Saya pun berpamitan dengan Nadia, dan berharap agar di lain kesempatan dapat berjumpa kembali.

Merci beaucoup, Paris. Au revoir!

Advertisements

6 thoughts on “Honeymoon Backpacker 1 – Paris”

  1. ka ichaa~ ini zia yg dulu sekelompok itu masih inget kaan~~ aku nemu wordpress ini lupa dari mana hehe. cerita perjalanannya seru banget kak bikin envy deh 🙂 doakan bisa segera nyusul merantau ke eropa kayak kak ica dong^^

    Like

    1. ziaaa, ingat dong sama zia..alhamdulillah kita dipertemukan kembali lewat ini. hehe

      aamiin.. insyaaAllah bisa segera merantau ke eropa ya ziaa, ditunggu kabar baiknya.. ^^

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s