Sepucuk surat cinta untuk istri tersayang

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Apa kabarmu duhai istriku tercinta? Semoga Allah subhaana wa ta’ala senantiasa melindungimu, menaungimu, memberkahimu, memelukmu, dan membelaimu dalam naungan cinta-Nya, kasih-Nya, dan keberkahan-Nya.. Allah senantiasa bersamamu dimanapun, kapanpun, dalam situasi apapun..

Duhai bidadariku..

Tidak pernah rasanya diri ini lebih mensyukuri pernikahan ini dibandingkan detik-detik ini, atas dipilihnya engkau sebagai wanita pendampingku, atas terpilihnya aku menjadi lelakimu. Betapa hina rasanya jika aku berkaca kepada diriku, tak pantas rasanya diri ini menjagamu dan melindungimu dalam sisa hidupmu, menjamin kehidupanmu di dunia dan keselamatanmu di akhirat..

Duhai cintaku..

Aku adalah orang asing bagimu, dan engkau adalah orang asing bagiku. Tidak pernah sedetik pun kita berjumpa dalam hidup kita sebelumnya, kan? Ah, jangankan berjumpa, membayangkan sebuah pertemuan pun aku tidak pernah. Jarak kita begitu dekat, namun waktu tidak pernah mengizinkan kita bertemu. Luar biasa ya bagaimana Allah ‘melindungi’ kita satu sama lain?

Aku adalah orang asing bagimu. Untuk kita, pertemuan hanya berlangsung 2 menit, jauh dari tanah kelahiran kita. Allah cukupkan 2 menit itu sebagai ajang perkenalan kita, ajang pertemuan kita yang pertama dan satu-satunya kala itu. Allah jadikan dirimu sesosok wanita yang sholehah luar-dalam, gadis yang jelita namun tetap menjaga diri dengan sebaik-baiknya, dan cerdas. Allah lindungi kita dari godaan-godaan syaitan kala itu, sehingga hati ini tetap suci dan terlindungi dari perasaan-perasaan dan pikiran yang belum pada waktunya. Cukup 2 menit, sekedar menambah isi daftar katalog orang yang pernah aku kenal dalam hidupku: Melisa Rahmadini.

Duhai kekasihku..

Jika bukan karena kasih Allah, tidak mungkin saat ini kita berada dalam kondisi kita saat ini. Dimana dirimu, diriku, dipersatukan-Nya dalam sebuah ikatan suci yang penuh dengan keberkahan dan kelembutan. Jika bukan karena mengharap ridha Allah atas pernikahan ini, tentu engkau akan lebih memilih seseorang yang lebih engkau ketahui latar belakangnya, sepak terjang kehidupannya, dan akhlak-perangainya. Seseorang yang mungkin telah berbulan-bulan, bertahun-tahun berinteraksi denganmu, mengharapkan untuk mempersuntingmu. Seseorang, yang mungkin sudah berdiri dalam ‘antrian’ untuk menjemput anggukanmu dalam sebuah pinangan.

Tapi, engkau memilih Allah di atas segalanya, sebagai pelindungmu atas segala bahaya yang akan datang kepadamu, sebagai penjamin atas segala nikmat yang akan tercurah kepadamu. Engkau dengan bersabar menunggu Allah mempertemukan dirimu dengan sesosok lelaki yang sudah Allah persiapkan, tidak buru-buru memperturutkan ‘bisikan-bisikan’ untuk terburu-buru melangkah ke dalam sebuah transformasi kehidupanmu. Dengan penuh keniscayaan engkau pasrahkan semuanya kepada Allah sebagai bentuk pengabdian hamba-Nya yang taat, bermunajat selalu “rabbanaa, hablana min azwaajina wa dzurriyyatina, qurrota a’yuun”..

Hingga kemudian engkau memilihku sebagai suamimu, meskipun aku sosok yang sangat-sangat asing bagimu.

Duhai sayangku..

Aku bukanlah manusia sempurna tanpa kesalahan. Bahkan aku merasa diri ini hina, penuh kesalahan dan kealpaan sepanjang hidup. Ada kalanya aku merenung lantas berpikir, apakah memang ada seseorang di luar sana yang pantas untukku, yang mau menerimaku apa adanya dengan segala kekurangan dan beberapa kelebihan yang Allah anugerahkan.

Ada sebuah langkah besar yang kuambil ketika aku memutuskan untuk bergerak menuju tahapan kehidupan yang baru. Bukanlah sebuah keterburuan, apalagi perasaan tidak ingin kalah karena teman-temanku mendahului. Sampai pada sebuah pemikiran bahwa aku ingin menyempurnakan separuh agama, melaksanakan sunnah Rasulullah sebagai bentuk kecintaanku kepada sosoknya. Sebelum Allah meneguhkan hatiku untukmu, aku hanyalah seorang pengembara yang telah sekian lama terombang-ambing dalam gelombang kebingungan dan kebimbangan.

Sampai kemudian Allah menurunkan rezeki-Nya kepadaku berupa dirimu, pulau tambahan hatiku, pelabuhan akhirku. Sebagai pelipur lara, sebagai tempat berkasih sayang, sebagai tempat berkeluh kesah dan mengadu di kala ragu dan buntu, sebagai sahabat bersenang-senang, sebagai pelita dalam kegelapan, sebagai embun di kala dahaga, sebagai tempat berteduh di kala panas, sebagai selimut di kala dingin, sebagai peredam duka di kala emosi mendera, sebagai tempat berpangku mesra di kala gundah gulana, dan sebagai tempat perjalanan dunia-akhirat terbaik.

Duhai permaisuriku..

Aku menyadari penuh siapa diriku, apa kekuranganku, dan bagaimana keterbatasanku. Maka apalah hakku untuk meminta lebih kepadamu? Engkau mungkin seringkali mengeluhkan dirimu yang tidak secantik Zulaikha, atau secerdas Aisyah, atau semulia Maryam, atau seteguh dan sesabar Khadijah. Namun ketahuilah duhai cinta, aku hanya ingin engkau seperti apa adanya, yang menangis di kala sedih, yang ngambek di kala menjadi bahan bercandaan, tersipu malu tatkala digoda, dan tersenyum, tertawa bahagia di kala bahagia.

Aku tidak menginginkan engkau sesempurna istri sang Rasulullah atau nabi-rasul sebelum beliau, sebab aku sadar bahwa aku pun tidak akan pernah mendekati kesempurnaan dan kemuliaan mereka. Aku tidak setampan nabi Yusuf, tidak segagah nabi Daud, tidak sekuat Umar bin Khatab, tidak sehalus Rasulullah, tidak secerdas Salman al-Farisi. Jika engkau menginginkan semua sifat itu ada padaku, maka aku berlindung kepada Allah atas kelemahan diriku, dan penuh kesungguhan hati aku meminta maaf atas segala keterbatasanku. Tapi jika engkau mendoakan aku memiliki salah satu saja sifat mulia mereka, maka aku bersyukur kepada Allah atas doamu itu dan juga atas berlipatnya rezekiku karena menikah dengan manusia pemilik doa sepertimu.

Hanya satu yang aku inginkan, adalah bahwa kita saling menjaga agar bisa meneladani sikap mereka, saling mengingatkan agar bisa membentuk keluarga sakinah seperti yang mereka perjuangkan.

Duhai ratuku..

Jika engkau mengharapkan harta dariku, ketahuilah bahwa aku hanyalah seorang pemuda biasa, yang penghasilannya dapat engkau lihat sendiri. Tapi tentulah engkau pernah mendengar bahwa harta dapat membawa kita kepada syurga, atau kefakiran bisa membawa kepada kekufuran. Maka dampingilah aku untuk mencari rezeki yang sudah Allah janjikan kepada hamba-Nya, rezeki yang halal lagi baik, yang cukup sebagai kendaraan kita kelak di akhirat nanti, sebagai naungan kita di kala menunggu antrian panjang di Padang Mahsyar. Sebagaimana mimpi kita untuk selalu memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar, semoga nantinya Allah menjadikan kita berdua sebagai perpanjangan tangan-Nya bagi hamba-hamba-Nya. Insyaa Allah keberkahan yang hadir dalam hidupku seiring dengan kehadiranmu, akan menjadi pembuka jalan bagi kita mengumpulkan harta sebagai bekal dunia-akhirat kita. Semoga dengan ini Allah membukakan pintu-pintu rezeki dari arah yg kita tidak pernah sangka-sangka sebelumnya.

Kekasihku tercinta..

Kita sama-sama tahu bahwa akan ada saatnya kita akan menghadapi masa-masa yang indah untuk dikenang, atau pahit untuk diingat. Semua tergantung seberapa besar hati ini mau melapangkan jalan untuk menerima apapun kondisi itu. Sayangku, Jika salah satu sudut hatimu pada saat ini sudah terisi untukku, maka jadikanlah itu sebagai pelengkap hatimu yang telah terpenuhi dengan kecintaan kepada Rabb semesta alam. Jadikanlah itu sebagai penopang kasih sayangmu kepada kekasih Allah, Rasulullah, karena tidak akan pernah hati ini cemburu jika Rasulullah lah cintamu yang utama. Maka samakan langkah kita dalam kecintaan kita, jangan pernah kita saling meninggalkan atau mendahului. Langkah kita adalah langkah menuju syurga-Nya, berjumpa dengan Allah dan Rasulullah-Nya.

Istriku..

Insyaa Allah kita akan menjalani tahap-tahap usia pernikahan kita. Pada tahun pertama kita, kuharap engkau mau lebih bersabar, mau memahami lebih dalam perbedaan-perbedaan antara kita, sebab kita adalah dua orang asing yang berbagi dayung dalam sebuah perahu besar. Akupun akan senantiasa bersabar untuk belajar mengenai dirimu, karena aku tahu mengenal dirimu adalah saat-saat paling menyenangkan bagiku.

Pada tahun kedua hingga tahun kelima, kuharap kita sudah saling mengerti tentang diri kita masing-masing, tentang sifat dan tingkah laku kita. Saat itu mungkin anak pertama kita akan lahir dan tanggung jawab kita sebagai orangtua baru dimulai. Kemuliaanmu sebagai seorang ibu baru saja dimulai, jika engkau merasa capek dan lelah janganlah sungkan untuk meminta tolong kepadaku. Apalagi kita akan mendidiknya mungkin dalam lingkungan yang baru, yang asing baginya dan kita. Meski aku tahu pada saat itu mungkin kehidupan kita masih prihatin dan belum stabil, kita akan disibukkan dengan studi dan penelitian, tapi dengan sepenuh hati aku yakin anak-anak kita yang masih lucu akan mampu menghapus semua duka lara, letih dan lelah, serta rasa capek dan penat karena tugas kita. Tugasmu sebagai madrasah yang memberi pendidikan agama dan nilai luhur para orang shaleh pendahulu kita, dan tugasku membantumu membumikan pendidikan itu.

Pada tahun kelima hingga kesepuluh, mungkin kita akan didera oleh kondisi keuangan karena saat itu kebutuhan kita akan meningkat, anak-anak beranjak ke sekolah dan kebutuhan rumah tangga akan meningkat. Aku memohon kepadamu, bantu aku dengan doa-doamu, dengan Dhuha dan tahajudmu, dengan dzikir dan shadaqahmu. Aku berdoa semoga masa-masa sulit segera pergi karena aku percaya sepenuh hati Allah memenuhi janji-Nya kepada kita.

Pada tahun kesepuluh hingga keduapuluh, mungkin Allah telah mengalirkan rezeki yang deras kepada kita, kehidupan mulai mapan, kesejahteraan mulai datang, dan anak-anak mulai dewasa. Aku memohon kepadamu, bantu aku menguatkan batin dan jiwaku agar aku tidak terperosok ke dalam jurang kenistaan, godaan dunia berupa harta, tahta, dan wanita. Sadarkan aku tentang umur dan usiaku yang mulai menua juga temperamenku yang mulai meninggi dimakan usia. Bantu aku bersahabat dengan anak-anak kita, berikan mereka pengertian tentang arti kehidupan sesungguhnya, karena sebentar lagi mereka akan memilih jalannya masing-masing.

Pada tahun ketigapuluh dan sesudahnya, kita akan kembali berdua, anak-anak lelaki kita akan pergi dan anak perempuan akan mengikuti suaminya, sebagaimana yang orangtua kita jalani saat ini. Kita hanyalah sepasang manusia renta yang tak bisa melawan takdirnya. Kuingin saat itu, hari-hari kita hanya dipenuhi dzikir dan tasbih, dipenuhi munajat dan doa, seraya menunggu malaikat Izrail datang menjemput. Dan jangan lupakan cita-cita kita untuk berkeliling dunia, semoga Allah cukupkan usia dan rezeki kita untuk mewujudkannya, insyaa Allah.

Bidadariku, permaisuriku, tambatan hatiku, kekasihku, dan jodoh dunia-akhiratku..

Aku ingin engkau dan aku tetap menjadi pasangan di dunia dan akhirat, yang saling menjaga, saling memberi peringatan dan tausiah agar tujuan pernikahan ini sesuai dengan yang kita harapkan. Ingatlah bahwa usia tidak pernah ada yang tahu, sehingga aku wasiatkan kepadamu untuk senantiasa menjadikan agama sebagai pondasi dan pijakan hidup, Allah sebagai tujuanmu, Rasulullah sebagai cinta sejatimu. Semoga aku senantiasa dapat membahagiakanmu kapanpun, dimanapun engkau berada..

Abang sayang ade..

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Suamimu yang berbahagia dengan kehadiranmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s