Cerita #3: Ruang jarak dan waktu

“Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang?” ― Dewi ‘Dee’ Lestari

Perpisahan sementara di malam itu membuka pintu-pintu baru dalam kehidupan kami selanjutnya. Komunikasi senantiasa terjaga, baik melalui teknologi digital berupa handphone dengan segala fasilitas media sosialnya, maupun melalui ‘tangan-tangan virtual’ Allah dengan doa-doa yang senantiasa dilantunkan ke Arsy-Nya.

Pekan-pekan pertama di Eropa menjadi waktu-waktu yang saya habiskan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru, teman-teman yang baru, dan perubahan zona waktu. Sementara itu, waktu tak pernah berhenti menunggu jeda dan terus berputar, menunggu realisasi rencana menjadi kenyataan. Komunikasi hampir kami lakukan setiap hari, tentu dengan pembatasan sewajarnya karena detik itu kami (masih) bukan siapa-siapa. Membahas berbagai hal yang menyangkut rencana dan persiapan kami berdua.

Rencana awal pada waktu itu adalah melangsungkan akad dan walimah pada bulan akhir tahun 2014, tepatnya ketika saya sedang mendapat jatah winter break selama 2 pekan terhitung tanggal 20 Desember hingga awal tahun 2015. Alasan kami sederhana: lebih cepat insyaa Allah lebih baik bagi kami, agar kami dapat menghindari ‘hubungan’ yang berlarut panjang sebelum menjadi sepasang suami-istri yang halal. Segala persiapan yang mengarah kepada realisasi rencana awal ini dilakukan dengan sebaik-baiknya: mempersiapkan rencana untuk mempertemukan kedua keluarga, persiapan teknis akad dan walimah, serta rencana pasca-pernikahan. Pertemuan kedua keluarga diawali sebelumnya dengan komunikasi oleh kedua keluarga yang diwakili oleh orangtua saya dan orangtua Icha melalui telepon. Selain karena jarak yang terlampau jauh untuk ditempuh, juga kesibukan yang belum bisa ditinggalkan sementara waktu, mengakibatkan realisasi rencana pertemuan kedua keluarga secara langsung cukup sulit dilakukan dalam waktu singkat.

Waktu terus berjalan tanpa mengenal jeda, namun realisasi rencana kami tampak ‘terhambat’ karena semakin sedikitnya waktu yang tersedia. Detik itu, kami berdua masih percaya bahwa niatan kami masih dapat berjalan sesuai dengan proposal yang kami tulis bersama. Kami tetap mengusahakan mediasi antara kedua keluarga, menyusun ulang kemungkinan rencana A, B, dan seterusnya. Komunikasi dengan kedua belah pihak terus kami lakukan, agar nantinya ketika bertemu tidak saling merasa kagok dan seperti baru saja berkenalan. Kami bergerak dengan satu tujuan bersama: terealisasinya rencana kami sesuai dengan yang kami rencanakan, sembari terus memohon agar garis takdir Allah sejalan dengan rencana kami, agar Allah meridhoi langkah-langkah kecil kami agar dapat bersama-sama menuju ke hadapan Arsy-Nya.

Namun rupanya Allah berkehendak lain.

Sekitar bulan Oktober, semangat kami masih menggebu-gebu, rencana terus kami godok dan komunikasi semakin intensif. Namun, kami dibenturkan pada fakta bahwa waktu semakin cepat berjalan, seakan tak peduli langkah kami yang tertatih-tatih mensejajarinya.

Sampai kemudian keputusan itu akhirnya kami ambil bersama. Kami memutuskan untuk menunda apa yang telah kami rencanakan sebelumnya untuk melangsungkan pernikahan pada bulan Desember 2014. Waktu yang terlalu mepet menjadi faktor utama penundaan ini. Saya tahu, walaupun kami berusaha saling tegar dan menguatkan satu sama lain sebisanya, namun ada satu bagian dari hati kecil kami yang masih merasakan sedih. Namun, semua sudah tertulis dalam Lauhul Mahfudz, bukan? Bahkan sebelum kita lahir, takdir seluruh umat manusia sudah ditulis oleh Allah. Tidak ada alasan untuk merutuki, apalagi menyesali yang sudah berlalu. Bismillah, moving on!

Kami kembali berjalan dengan rencana yang baru, kali ini dengan langkah yang lebih mantap berdampingan dengan sang waktu. Tambahan waktu yang Allah sediakan kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk mematangkan semua persiapan. Kali ini kami jauh lebih percaya diri, dan lebih yakin bahwa ‘pengunduran’ ini bukanlah sebuah tanda bahwa Allah tidak merestui rencana kami, melainkan pertanda bahwa Allah telah mempersiapkan waktu yang lebih baik dan lebih sempurna bagi kami berdua.

Pada bulan November 2014, pertemuan kedua keluarga akhirnya dapat terealisasi. Seperti diketahui bahwa keluarga Icha berdomisili di Pariaman, sedangkan keluarga saya di Balikpapan. Pertemuan dilaksanakan persis di titik tengah antara keduanya: Jakarta, persisnya di daerah Condet, Jakarta Timur, di rumah sepupu Icha. Jauh hari sebelumnya saya dikabari mengenai rencana pertemuan ini, dan saya berencana untuk ‘menghadiri’ pertemuan ini secara virtual dengan menggunakan media Skype.

Namun, lagi-lagi Allah berencana lain. Tepat pada hari yang sama dengan pertemuan kedua keluarga sekaligus khitbah resmi saya kepada Icha yang diwakilkan oleh orangtua saya, saya harus mengikuti field trip yang diadakan oleh kampus saya di Andalusia, Spanyol. Saya kemudian berdiskusi dengan Icha, namun rencana ini gagal karena 2 hal: jaringan internet yang tidak mumpuni (baik di hotel saya maupun di rumah Icha), dan perbedaan waktu Spanyol-Indonesia yang mengakibatkan saya ketiduran pada saat saya harusnya menghubungi ke Jakarta. Akhirnya, saya harus meminta maaf berkali-kali kepada Icha dan keluarga karena keteledoran saya sehingga harus melewatkan salah satu tonggak utama dalam rencana kami. Namun, tanpa kehadiran saya pun Alhamdulillah acara berlangsung dengan lancar, dan sebuah cincin akhirnya tersematkan di salah satu jemari Icha. We are officially engaged!

Wejangan dari Mamah untuk calon menantu pertamanya - "Jangan lupa Alfi ngga doyan makan terong ya.."
Wejangan dari Mamah untuk calon menantu pertamanya – “Jangan lupa kalau Alfi ngga doyan makan terong ya..”

Ada sebuah kisah pendek, beberapa saat setelah saya pulang dari field trip di Spanyol dan kembali ke Belgia. Ketika itu, suhu udara semakin rendah dan hujan air berganti menjadi hujan salju. Suatu hari di pertengahan bulan Januari 2015, di tengah-tengah pusingnya saya belajar menghadapi final exam terakhir semester itu, salju turun dengan lebatnya, jatuh lembut menutupi permukaan tanah yang semakin memutih dan tebal. Tercetus sebuah ide untuk membuat ‘kejutan’ untuk mon fiancé, yakni membuatkan tulisan namanya di atas salju. Saya tahu bahwa Icha sangat terobsesi dengan salju, sehingga ini kesempatan besar saya untuk membuatnya ‘ngiler’ dengan mempertontonkan saya bermain di atas salju (yang mana ini adalah pengalaman pertama saya juga berinteraksi dengan salju). Dan, voila!

Big ICHA on the top of snow - mon fiancé!
Big ICHA on the top of snow – mon fiancé!

Tahun 2014 adalah tahun yang paling berkesan bagi saya. Tahun 2014 adalah sebuah titik balik terbesar dalam hidup saya, yang kemudian menjadi saya untuk berubah menjadi lebih baik. Allah begitu banyak menunjukkan berbagai nikmat-nikmat yang luarbiasa besarnya bagi saya. Dimulai dengan nikmat ‘hijrah’, diperjalankannya saya untuk pertama kalinya ke luar negeri menuju Australia, mendapat beasiswa studi master ke Eropa, dan dipertemukan dengan wanita sebaik Icha yang Allah izinkan saya untuk mempersuntingnya. Pelajaran paling berharga untuk kita bersama, bahwa Allah senantiasa mempersiapkan bagi kita ‘kejutan-kejutan’ terbaiknya. Berbaik sangkalah kepada Allah selalu, maka Allah pun akan memperjalankan kita di bumi-Nya dengan takdir terbaik. Insyaa Allah.

“Everything is always OK in the end; if it’s not then it’s not the end.”

Advertisements

3 thoughts on “Cerita #3: Ruang jarak dan waktu”

  1. Hai KaAlpi and KaIcha..
    Teruntuk KaIcha yg belum sempet ketemu dan kenalan sama kami temen2 SD-nya Alfi yg kuliah di Bdg.
    Salam kenal dari aku, salah satu teman SD dan se-gank Istiqomah Alfi di Bdg.
    Aku suka banget bacain blog kalian. And your words open my eyes!
    Inspiratif bangeeett!! Bikin saya semangat dan sadar (kembali) bahwa memang semuanya sudah diatur Allah. Kita sebagai manusia cuma bisa berdo’a dan menyerahkan semuanya pada Sang Pemilik Rencana 😊

    Semoga kalian selalu dalam lindungan dan rahmat Allah. Semoga bisa ketemu juga sama KaIcha 😁
    Ditunggu tulisan-tulisan selanjutnya. Keep inspiring! 😊

    Like

    1. halo kaLaras.. 🙂 aamiin, makasi banyak ya kak sudah berkunjung dan membacanya, juga teruntuk doanya semoga Allah ijabah, doa yang sama utk kakak..

      iyaaa kak, semoga bisa ketemuan ya. salam untuk gank istiqomah hoho..:D

      salam,
      Icha ^^

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s