Cerita Alfi

Cerita #1: Ketika doa-doa akhirnya berjumpa di langit dan di bumi

Jemputlah aku dilangit. Sebab aku tahu, kau mengenalku bukan karena nama dan rupa. Doa kita telah bertemu sebelum fisik kita. – Kurniawan Gunadi

Pertemuan bersejarah di acara konferensi di Canberra itu berakhir dengan biasa saja, kendati konferensi pada hari itu masih tersisa 1 hari setelah pertemuan di sore itu. Entah kenapa, walaupun bisa saja kami saling bertemu ketika sedang coffee break atau makan siang, atau bahkan pada penutupan di KBRI Canberra, kami tetap saja ‘dipisahkan’ satu sama lain.

Allah kembali memisahkan kami setelah konferensi selesai. Saya pulang via Sydney, sementara Icha pulang via Melbourne. Jujur saja, sepulangnya saya ke Indonesia saya tidak ingat sama sekali kalau saya pernah berkenalan dengan seseorang bernama Melisa Rahmadini, bahkan saya tidak pernah tahu kenapa kami bisa berteman di media sosial. Saya kemudian sibuk dengan urusan pekerjaan dan beasiswa di Bandung, dan konsentrasi Icha terpusat di Jakarta dengan pekerjaan. Kami seakan asyik dengan dunia masing-masing, tidak menyadari bahwa lantunan doa-doa yang kami kirimkan setiap hari dan malam ke langit mulai saling bertemu dan menjalin semakin erat, digenggam erat oleh oleh tangan-tangan Allah.

Dalam waktu ‘vakum’ ini, dengan segala kuasa dan kemurahan hati Allah, saya mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi S2 di Eropa. Di sela-sela kesibukan dan kebahagiaan saya ini, saya kemudian iseng mem-posting beberapa foto di media sosial saya, yang salah satunya adalah foto visa saya. Beberapa teman memberikan like dan berkomentar di foto itu, dan sepenuhnya saya tanggapi dengan biasa saja.

Sampai kemudian entah kenapa mata saya tertuju pada satu orang yang mengirimkan like-nya kepada saya. Melisa Rahmadini.

Sejujurnya saya lupa sama sekali dengan seseorang bernama Melisa. Saya tidak ingat dimana dan kapan saya pernah berkenalan (yang kelak akan sering disinggung-singgung oleh Icha sebagai ‘tidak peka’ (kidding!)), sehingga kemudian membangkitkan rasa penasaran saya terhadap sosok ‘Melisa’ ini. Tidak banyak yang bisa di”kepo” dari makhluk Allah satu ini karena Alhamdulillah dia sangat ketat menjaga media sosialnya, namun kesan yang saya dapatkan adalah seorang pribadi yang riang, bersahabat, bersahaja, dan sholehah.

Waktu kemudian berlalu, dan keingintahuan saya terhadap sosoknya semakin tumbuh. Dengan kuasa Allah, keingintahuan saya dapat ditekan dengan cara yang baik, sehingga kemudian saya memutuskan untuk memilih cara ta’aruf untuk lebih mengenalnya semakin dalam. Saya kemudian menghubungi salah satu sahabat Icha yang bernama Anggun, yang kelak menjadi salah satu orang yang paling berjasa dalam membangun fondasi pertemuan kami.

Dari Anggun-lah saya tahu satu fakta penting: bahwa ‘antrian’ di depan saya sudah sangat panjang, dan banyak juga yang tertolak. Mendengarnya saya langsung berkecil hati dan gugup, karena saya merasa bukan siapa-siapa dibandingkan orang-orang yang sedang ‘mengantri’ dan yang sudah pernah tertolak. Namun Anggun membesarkan hati saya, dan saya pun banyak berdoa agar dikuatkan dan dimantapkan. Sembari membesarkan hati, saya pun banyak bertanya mengenai pribadi Icha, keseharian dia, keluarga, dan sebagainya. Alhamdulillah, lagi-lagi dengan kuasa Allah hati ini serasa semakin diteguhkan dan dimantapkan. Bismillah, nothing to lose. Saya kemudian mencoba menyampaikan niatan saya melalui Anggun, sambil harap-harap cemas menunggu jawaban dari Icha. Dan bak gayung bersambut, Icha meminta saya untuk menuliskan sebuah ‘proposal’ rencana masa depan. Karena ini pengalaman pertama saya, jadilah saya banyak bertanya kepada orang-orang mengenai ‘format’ proposal ini, bahkan sampai harus googling. Saya mulai mencoba menuliskan proposal ini, namun selalu stuck dan hanya bisa menulis sedikit.

Kesibukan saya semakin menjadi-jadi ketika waktu keberangkatan saya semakin dekat. Saya harus membagi waktu saya antara persiapan keberangkatan yang diselenggarakan oleh sponsor beasiswa saya, menyelesaikan pekerjaan di kantor, dan beres-beres kostan serta packing. Ada satu cerita menarik yang saya alami ketika saya sedang menjalani persiapan keberangkatan di Bogor. Hari itu adalah hari pertama dari rangkaian persiapan keberangkatan yang saya jalani di sebuah wisma di Bogor. Sore itu, Anggun mengirimkan chat kepada saya, memberitahu bahwa ada seseorang yang juga sedang mendekati Icha. Jadilah sore itu saya ‘kepikiran’ akan hal itu, namun Anggun lagi-lagi membantu membesarkan hati saya, mendorong saya untuk terus mencoba sambil berkata bahwa peluang saya lebih besar. Malam itu juga, saya mulai mencicil proposal sedikit demi sedikit, dan berhasil menyelesaikannya secara sempurna 2 hari setelah persiapan keberangkatan saya selesai dan saya kembali ke Bandung. Saya sampaikan proposal itu kepada Anggun untuk kemudian diteruskan kepada Icha, dan saya menghabiskan sisa-sisa waktu terakhir saya di Bandung dengan menyelesaikan packing, pamit sana-sini, dan mencicipi ulang semua kuliner yang ada di Simpang Dago.

Beberapa hari kemudian, Anggun menghubungi saya, menanyakan apakah saya bisa menemui Icha untuk bertemu tatap muka, untuk pertama kalinya sejak bertemu di Canberra. Saya kemudian memutuskan untuk berangkat ke Jakarta dan bertemu dengan Icha di daerah Salemba, dekat rumah sakit tempat Icha bekerja. Di salah satu restoran di sana, saya mengadakan pertemuan enam mata dengan Anggun dan Icha, dan kami berdiskusi mengenai isi proposal dan sebagainya. Sepanjang pertemuan saya hanya bisa menunduk malu, tidak berani melihat wajah Icha. Dari diskusi malam itu, saya semakin merasa bahwa Icha adalah orang yang tepat. Kecocokan semakin saya rasakan ketika kami membicarakan isi proposal, dan tidak disangka bahwa Icha mempunyai grand design yang hampir sama dengan saya. Malam itu, setelah silaturahim dengan keluarga Icha yang tinggal di Jakarta, saya kemudian memutuskan pulang ke Bandung. Ternyata malam itu sudah tidak ada transportasi yang dapat membawa saya ke Bandung, sehingga saya memutuskan untuk pulang ke Cimahi dan menumpang ojek dari sana.

Bismillah, malam ini menjadi salah satu tonggak terpenting dalam kehidupan saya, malam yang sangat berarti dan mengubah kehidupan saya selanjutnya menjadi jauh lebih baik lagi, insyaa Allah.

Bismillah. Allah sebaik-baik pengatur kehidupan makhluk-Nya.

Posting bersejarah di Facebook - Untuk kedua kalinya 'Melisa Rahmadini' hadir di kehidupan saya
Posting bersejarah di Facebook – Untuk kedua kalinya ‘Melisa Rahmadini’ hadir di kehidupan saya
Advertisements

2 thoughts on “Cerita #1: Ketika doa-doa akhirnya berjumpa di langit dan di bumi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s