Cerita #0: Awal dari sebuah awal

Setiap perjalanan besar diawali oleh sebuah langkah kecil.

Semua berawal pada akhir tahun 2013, ketika saya mendapat email dari panitia Konferensi Internasional Pelajar Indonesia (KIPI) 2014 Canberra, Australia bahwa abstrak saya diterima dan saya diundang untuk mengikuti konferensi pada bulan Maret 2014 di Canberra, Australia. Ini adalah kedua kalinya saya mendapat notifikasi diterimanya abstrak saya dan invitasi untuk mempresentasikan paper, walaupun level konferensinya ‘masih’ sebatas Persatuan Pelajar Indonesia, setelah sebelumnya juga diundang ke Hokkaido, Jepang. Namun, ada sebuah ‘trauma’ besar yang saya rasakan ketika menerima email ini. ‘Trauma’ karena saya sebelumnya gagal mengikuti konferensi lantaran ketiadaan biaya maupun sponsor.

Di awal, saya begitu bersemangat menulis proposal, mengurus legalisasi di kampus yang seperti di-‘pingpong’ kesana kemari, menulis menyebarkan email ke perusahaan-perusahaan yang berpotensi membiayai saya untuk berangkat konferensi, namun hasilnya nihil.

Singkat cerita, sampai dengan H-2 (hari yang seharusnya menjadi) hari keberangkatan, saya belum mendapat sponsor dari siapa-apa. Saya ingat sehari sebelumnya saya begitu khusyu’ berdoa seusai shalat Ashar, saya sangat ingin berangkat ke Australia. Saya larut dalam doa yang begitu panjang, penuh dengan keikhlasan menyerahkan segala keputusan kepada Allah. Berangkat alhamdulillaah, tidak berangkat juga alhamdulillaah. Selesai berdoa, saya merasakan sebuah ketenangan yang sangat-sangat-sangat tenang. Entahlah, mungkin ini yang dinamakan keikhlasan, baru pertama kalinya saya merasakan pasrah yang sebenar-benarnya pasrah.

Sampai kemudian di pagi itu, 2 hari sebelum konferensi, saya mendapat sms dari bos tempat saya bekerja, bahwa perusahaan tempat saya bekerja bersedia untuk membiayai keberangkatan saya konferensi. Entah apa yang saya rasakan ketika itu, sebuah kelegaan dan keharuan yang luar biasa ketika sebuah doa terjawab. Langsung saya bersiap dan berangkat keesokan harinya.

Siapa sangka, ini adalah sebuah awal bagi kisah saya yang lain. Kisah yang sebelumnya belum terbersit dalam pikiran saya sama sekali, bahkan tidak saya masukkan ke dalam doa saya di kala Ashar itu.

Hari itu, saya baru tiba di venue konferensi sore hari, ketika konferensi hari pertama sudah berjalan hampir 2/3 acara. Sore itu matahari bersinar cerah, langit biru dengan awan yang sangat putih, pemandangan yang baru pertama kali saya lihat seumur-umur hidup saya di Indonesia. Saya tiba dengan dandanan ala backpacker, tas carrier besar dan kaos plus celana jeans. Melihat saya yang begitu lusuh setelah perjalanan jauh dari Bandung-Kuala Lumpur-Sydney-Canberra, panitia memberikan saya kesempatan untuk mandi di salah satu kamar mandi di sana. Saya kemudian mandi dan berganti baju sebelum masuk hall tempat acara konferensi berlangsung.

Sore itu, acara ditutup dengan makan bersama. Saya berkenalan dengan hampir seluruh peserta konferensi yang rata-rata berusia setara atau lebih muda daripada saya. Agak minder saya begitu mereka tahu bahwa saya sudah lulus dan merupakan angkatan 2009, walaupun sebenarnya saya sejatinya angkatan 2010.

And that time finally came.

Sore itu, bertempat di ANU Hedley Bull Foyer, kali pertama saya berkenalan dengan dirinya yang memakai baju kurung yang panjang, jilbab yang menutup sampai ke pinggang, dan bros bunga yang cukup besar. Bermodal sebuah ‘kenekadan’ dan keberanian, saya memberanikan diri berkenalan dengannya di saat saya menunggu peserta lain untuk bersama-sama menuju hostel tempat menginap. Pribadi yang sederhana dan manis, itulah kesan pertama saya kepada dirinya. Sungguh tidak pernah terselip perasaan sebelumnya, apalagi cinta pada pandangan pertama. Sungguh hanya sebuah percakapan sederhana, tidak lebih dari 3 menit. Saya lebih banyak menundukkan pandangan ketika berkenalan, karena saya takut pandangan saya akan ‘merendahkan’ martabat dirinya sebagai seorang wanita yang shalihah lagi bersahaja. Tidak seperti yang terjadi di film atau sinetron, dimana adegan tatap-menatap pertama kali ditayangkan secara slow motion, seakan waktu berhenti berputar kala itu. Namun siapa sangka, percakapan ini adalah sebuah untaian kata-kata pertama yang menjadi batu pijak kehidupan kita berdua selanjutnya.

“Hai, nama saya Melisa Rahmadini. Kamu siapa?”

Tidak romantis ya? Tapi beginilah awal kisah pertemuan saya dengan dirinya, the one love of my life. Psst, boleh percaya boleh tidak, kisah pertemuan kami hanya sebatas ini, walaupun konferensi berlangsung 2 hari. Hanya sebatas perkenalan dan saling tunduk-menunduk 2 menit ini. Tidak lebih, dan tidak pernah lebih. Ketika orang-orang mendengar kisah kami, banyak yang tidak percaya bahwa kisah kami berhenti sampai di sini. Betul, namun kisah perkenalan ini berhenti hanya di 2 menit awal pertemuan kami. Pertemuan pertama kali sejak sama-sama dilahirkan di dunia 23 tahun yang lalu. Saya suka tersenyum sendiri kalau mengingat kisah ini. 23 tahun kami tinggal di negara yang sama, bahkan 5 tahun terakhir kami habiskan di tanah pulau yang sama, hanya berjarak sekian ratus kilometer satu sama lain. Namun Allah berkehendak untuk mempertemukan kita di benua lainnya. Dan barulah saya tahu belakangan bahwa perjuangan dia untuk berangkat konferensi tidak kalah serunya dibanding perjuangan saya.

Ah, Allah memang memenuhi hidup hamba-Nya dengan kejutan-kejutan, bukan?

Tempat pertemuan pertama - ANU Hedley Bull Foyer Canberra
Tempat pertemuan pertama – ANU Hedley Bull Foyer Canberra. Lingkaran merah menunjukkan secara tepat tempat dimana saya dan dia berdiri berhadapan dan saling berkenalan sore itu, 7 Maret 2014
Advertisements

1 thought on “Cerita #0: Awal dari sebuah awal”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s